ANTARA MENIPU DAN DI TIPU
Wasjayakirana (17) melantunkan lagu tersebut dengan petikan gitar yang di mainkannya sendiri.lagu itu dinyanyikan setiap hari di perempatan-perempatan lampu merah,di atas bus kuta,ketika dia sedang sendiri atau bersama teman-temannya sesama pengamen jalanan. Saya masih berumur tujuh tahun saat dibawa ibu ke Jakarta.Saya dan empat kakak-kakak saya.
Ternyata begitu sampai di Jakarta janji teman-teman ibu untuk memberi pekerjaan tak ada yang di tepatin.Kami terdampar di kawasan kuningan Jakarta.Ibu jadi pengemis dan menghuni di kolang jembatan layang "Kata jaya,panggilan akrap wasjayakirana sabtu (14/7).Jaya merupakan salah satu dari ribuan anak jalanan di Jakarta.Menurut data terahir dari badan pusat Statistik DKI jakarta 2007.terdapat 14 persen dari sekitar 7 juta penduduk jakarta adalah pengangguran dan termasuk miskin.Diperkirakan sebagian dari merekan di tambah pendatang yang tidak resmi yang tidak mendapat pekerjaan tetap di jakarta terpaksa hidup di jalanan.
Saat di temui sabtu lalu,jaya sedang berada di tugu Proklamasi,jakarta pusat.Ia datang ketugu prokalamasi setelah mendengar di temapat itu sedang di adakan festival budaya dan Temu Rasa Anak pinggiraan Merdeka se-Jabotabek.13sampai 15 juli 2007.Ia terlihat bosan melihat acara melukis bersama anak jalanan dan acara acara lain yang panitia.Ia pun memilih bermain gitar bersama empat temannya selama ini.mereka hidup tidak menentu dan sering menginap di jalanan,Khususnya di kawasan Guntur,Pasar Rumpun,Jakarta selatan.
Jaya bertutur ia masih dalam kandungan ketika ayahnya,buruh tani bawang merah di Bulakombo Brebes Jawa tengan meninggal.Ibunya meneruskan perkerjaan sebagai buruh tani sampai ahirnya terbuai mimpi meraih kekayaan di ibu kota.selama dua tahun pertama di Jakarta mengawali kehidupan buruk terpaksa di jalaninya.Sejak umur tujuh tahun itu ia adalah anak sekaligus aset dan alat mencari uang bagi keluarganya,Sebenarnya nasib sama di alami keempat sodaranya dan ibunya.
Dikolom jembatan itu jaya belajar mengamen,Dari hanya berbekal tepukan tangan sampai kaleng berisi pasir yang di kocok-kocok hingga gitar kecil.berhari-hari ia berkeliling jakarta hingga ke pulo gadung dan penjuru ibu kotadan tidak pulang keibunya.kemarahan terus menggantung di hati dan otaknya,tidak dapat menerima nasib buruk itu.tepat ketika ibunyasudah tidak mampu mebayar sewa rumah petak kecil di tengah perumahan kumuh di sekitar Setiabudi,jaya justru memutuskan lari dari keluarganya.Ia menyatu dengan teman-teman pengamen di Guntur.
Berjumpa dengan anak-anak pelarian asal Palembang,Medan,orang orang dari kampung asalnya termasuk dari Indramayuhingga serang,Banten juga cukup banyak dan mendemonasi kelompok Guntur.Komposisi seperti ini juga di lihatnya dalam kelompok -kelompok anak jalanan lain di Jakarta.Ia berusia 10 tahun saat itu dan selama lima tahun berikutnya tidak pernah bertemu dengan keluarganya.bener-benar hidup di jalanan Tidak jelas.setiap hari mengamen,merokok,ditipu orang, menipu orang mencopet.Hampir semua hal buruk pernah dia lakukan.jadi korban dan juga jadi pelaku" Kata jaya.
KEKERASAN
Ia dan teman-temannya sering di tangkap petugas Satuan Polisi pamong praja(satpol PP).mereka biasa di bawa paksa kepanti sosial di Kedoya,Jakarta Barat.Dipanti ini jika mereka masuk dengan pakaian lengkap plus sepatu di pastikan keluar dengan hanya kaus dan sandal jepit.menurut jaya,selain diperlakukan kasar oleh petugas panti Ia jugaharus menghadapi preman-preman sesama anak jalanan yang sering merampas uang dan barang berharga miliknya dan milik penghuni panti.Ia jadi terbiasa menerima pukulan di kepala, dada, perut dan kaki.Petugas panti pernah memberikan no tlp dan menyuruh menghubungi jika ada apa-apa saat ada di jalan,tapi saat saya di rampok dan di pukuli orang di senen mereka tidak pernah datang menolong,Saya bosan dengan janji-janji mau di selamatkan"kata Jaya.
Perlakuan kasar tidak berhenti di pemukulan atau perampasan saja.meski tidak mengatakan dirinya juga korban,tetapi anak laki-laki dijalanan juga tidak luput dari prilaku sex menyimpang.Terutama bagi anak jalanan perempuan,kekerasan sexsual adalah hal yang biasa.Saya berumur 8 tahun saat di bawa om-om yang ketemu di jalan ditanah Abang.itu pertamakali saya mengalaminya.Jijik sekali dan takut,Mau melapor lapor sama siapa ?"kata watini(14).Watini tampak seperti gadis remaja umumnya.wajahnya ceria dan aksesori gelang plastik warna biru menghiasi pergelangan tangan kiri.Kalung warna senada melingkar di balik lehernya.di balik pakaian lusuhnya,Ia masih bisa tersenyum manis.Watini tidak dapat menghitung tetapi bukan kali ini aja Ia mendapatkan perlakuan tidak senonoh.dalam sehari minimal ia harus menerima colekan iseng sopir mikrolet pemulung atau sesama teman pengamen.perempuan kecil ini kini memilih berkumpul bersama orang-orang yang telah di akrabi dengan harapan akan lebih aman dan terlindungi.
Ia mengaku tidak tahu dari mana asalnya.seingatnya,ia sudah menggelandang di tanah abang sejak kecil.hanya ada ibunya dan seorang laki-laki yang kini berusia lima tahun.mereka kadang bersama-sama mengemis dan mengamen.ia saat ditanya cita-citanya ingin punya uang banyak dan bisa nyewa rumah sendiri.
JADI PENULIS
Berbeda dengan Watini yang hidupnya terasa masih gelap jaya justru baru saja mendapatpencerahan .sekitar 2 tahun lalu ia dan kelompok pengamen di datangi Natalie erin orang kanada yang sering membantu anak-anak jalanan.Jaya diajak tinggal di yayasan miliknya dan di ajari kehidupan ala "rumahan"dan bersekolah. Jaya kini terbiasa mandi rutin,tidur malam danbahkan kursus montir dan belajar bahasa inggris." I am seventeen years old,you can call me jaya" katanya memamerkan kemampuan barunya.Ia baru saja kursus bahasa inggris tingkat elementary II.bersama 15 anak lainnya,Jaya tidak meninggalkan pekerjaan rutinnya mengamen.namun dia kini memiliki kegiatan barunya yaitu menjadi pemimpin redaksi(pemred).Ya pemred Dekkil pos.Bulitin bulanan empat halaman yang di gawangi oleh anak-anak jalan di Jakarta center street children(JCSC)
Di Dekkil pos ,jaya sebagai pemred di bantu wito sebagai redaktur,dan dani,alan,ijul,serta yanto sebagai reporter.perkara yang tulis menulis layaknya wartawan ini sudah dilakoni remaja jalanan sejak Januari 2006.Dalam Bulitin ini muncul cerita-cerita keseharian anak anak jalanan,seperti kebiasaan merokok sama sama ,satu batang di isap bergilir menandakan persahabatan dalam satu kelompok tertentu.Rata rata dalam satu hari berdasarkan survei Dekkil pos,setiap anak dapat merokok satu hingga 12 batang perhari.bukan cuman masalah rokok dalam tulisan tim dekkil pos betapa tanpa pendidikan,buta huruf yang menjangkiti sebagian besar anak jalanan menyebabkan mereka tidak mengerti hidup sehat.setiap penghuni tetap jalanan dari bayi hingga orang dewasa rata-rata mengidap penyakit gatal-gatal.
seperti contohnya Andi yang juga pernah tinggal di JCSC.ia menderita penyakit kulit berbintil bintil dan sudah hanpir sembuh hanya sayang nasibnya naas saat ketika ia di tangkap kembali petugas satpol pp dan kembali di jebloskan kepanti sosial.selama dua minggu di panti ia tidak dapat mandi teratur lantaran ia harus berbagi air karna persediaan terbatas.dan penyakitnya makin parah ketika dian ahirnya di keluarkan dari panti lantaran petugas takut ketularan.dengan sakitnya itu andi minder untuk kembali ke yayasan dan kebali kejalanan.Tim dekkil pos begitu sedih dengan keputusan Andi.pencarian andipun kini sia2 entah giaman nasib andi sekarang ini.
CATATAN ANDRE ; Dengan fenomena seperti ini lalu apa pendapat anda para blogker untuk hanya sedikit meringankan
atau bahkan mencari jalan keluarnya.
Naskah di tulis oleh andre di kutip dari pengalaman nyata dari kompas 2007

